Pada 20-30 April 2026, para murid kelas 6 sekolah dasar (SD) akan menghadapi tes kemampuan akademik (TKA). Meski tes tersebut tidaklah wajib dan bukan penentu kelulusan, namun bagi anak usia SD, mengerjakan tes kerap menimbulkan kecemasan. Peran orang tua menjadi sangat vital dalam mendampingi anak, agar mereka menjalani TKA dengan nyaman, jujur, dan gembira.
Pada usia SD, anak belum sepenuhnya mampu mengelola emosi, tekanan, dan tanggung jawab akademik secara mandiri. Di sinilah peran orang tua tidak hanya sebagai penyedia fasilitas belajar, tetapi juga sebagai pendamping dan motivator utama.
Beragam penelitian menyebutkan bahwa orang tua yang terlibat aktif dalam proses belajar anak terbukti mampu membantu anak memahami materi soal lebih baik. Pendampingan sederhana seperti menemani belajar, membantu mengatur jadwal, atau berdiskusi ringan tentang pelajaran dapat meningkatkan rasa percaya diri anak.
Penelitian yang dilakukan University of Oxford, Inggris tahun 2024 tentang Parental Engagement alias keterlibatan orang tua di Inggris, misalnya, menyimpulkan bahwa strategi keterlibatan erat orang tua di rumah dan sekolah dapat meningkatkan kemampuan anak dalam proses belajar, serta mendukung perkembangan akademik mereka secara keseluruhan, terutama pada anak usia dini dan jenjang sekolah dasar.
Senada, Nancy Hill, seorang Psikolog Perkembangan Anak dan Profesor di Harvard Graduate School of Education, Amerika Serikat, menegaskan bahwa peran orang tua amat penting dalam membangun kebiasaan belajar yang sehat. Dalam penelitiannya yang diterbitkan di The Journal of Educational Research tahun 2018, ia menyebutkan bahwa keterlibatan orang tua secara signifikan meningkatkan motivasi dan nilai akademik anak. Kendati, keterlibatan orang tua ini berbeda-beda berdasarkan latar belakang sosial-ekonomi, namun tetap menjadi hal pokok untuk kesuksesan akademik murid.
Terlebih, anak usia SD masih membutuhkan pendampingan dalam mengatur waktu, menjaga keseimbangan antara belajar dan bermain, serta menerapkan pola hidup sehat seperti tidur cukup dan asupan gizi yang baik. Kebiasaan ini berpengaruh langsung pada konsentrasi dan daya serap anak saat mengikuti tes.
Selain aspek akademik, dukungan emosional dari orang tua sangat menentukan kesiapan mental anak menghadapi TKA. Tekanan berlebihan, atau membandingkan semangat belajar dengan anak lain justru dapat memicu kecemasan. Sebaliknya, orang tua yang memberikan dorongan positif, menanamkan pemahaman bahwa tes adalah sarana untuk mengetahui potensi diri, akan membantu anak menghadapi TKA dengan lebih tenang.
Tak kalah penting, komunikasi antara orang tua dan guru perlu terjalin dengan baik. Dengan memahami capaian dan tantangan belajar anak di sekolah, orang tua dapat memberikan pendampingan yang lebih tepat di rumah. Sinergi ini menjadi pijakan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.




